Hari yang lain di penjara: Berjemur

Begitu pintu besi kamar dibuka, aku bergegas menuju blok sebelah untuk mengambil uang tunai di jasa transferan yang dikelola oleh pesuruh sipir. Sebungkus rokok kubeli, kubakar sebatang dan kemudian duduk di pinggir lapangan. Kubuka kaosku dan mulai berjemur.

Di dekatku ada 2 orang pria yang tengah berbincang, lalu datang lagi 1 orang yang duduk lebih dekat denganku. Tak lama kemudian, kedua orang tadi pergi, menyisakan aku dan pria yang datang belakangan. Masing-masing kami bertelanjang dada bermandikan sinar matahari sambil merokok.

Setelah beberapa saat, kuputuskan untuk membuka obrolan. “Di blok ini, bang?”

“Iya. Abang dimana? Blok sebelah?” dia balik bertanya.

“Iya. Bulanan kamar abang berapa?” lanjutku.

“400 ribu, bayarnya per 2 minggu, bisa dicicil,” jawabnya.

“Wah, iya ya, yang aku denger sih emang mahalan di blok abang daripada di blok saya,” aku menimpali keterangannya.

“Disana emang berapa bang?” tanyanya.

“Yang saya tau sih paling mahalnya 300. Kamar saya sekarang sih 200, pernah juga 150 pas palkam1 sebelumnya. Tapi setau saya per bulan semua sih, gak ada yg mingguan atau per 2 minggu kaya di blok abang,” terangku.

Kami terdiam, menikmati rokok dan pikiran masing-masing, serta sinar mentari pagi yang jarang kusyukuri.

“Tinggal dimana, bang?” dia bertanya.

“Deket sini sih, daerah ini,” jawabku.

“Dimananya, bang? Saya pernah tinggal di daerah ini juga.”

“Oh ya? Dimananya emang bang?” aku balik bertanya tanpa menjawabnya terlebih dahulu.

“Di itu, bang,” jawabnya.

“Oh. Kalo saya di situ. Sekarang dimana bang tinggalnya?” tanyaku.

“Di daerah sana,” jawabnya.

Kembali jeda. Sesekali kami bertegur sapa dengan warga binaan lain yang melintas di depan kami, entah itu jogging memutari lapangan atau hanya sekadar lewat.

“Narkoba, bang?” tanyanya memulai kembali percakapan.

“Iya, bang. Kalo abang, kriminal?”

“Iya, bang. Begal,” jawabnya sambil terkekeh.

“Ohh..” timpalku sekenanya.

“Itu bang, yang sama Brimob,” ujarnya melanjutkan.

“Hah, Brimob?” tanyaku penasaran.

“Itu, Densus88, SPK2 saya,” jelasnya dengan agak ragu.

“Hah, SPK abang orang Densus?” selidikku.

“Iya,” ungkapnya.

Aku yang pernah berurusan dengan detasemen tersebut tentu sangat tertarik untuk mendengar ceritanya lebih lanjut. Obrolan kami terus bergulir. Aku menjelma intelijen yang tengah mengorek informasi. Berbagai pertanyaan acak dan intermeso kulemparkan padanya agar dia merasa nyaman untuk terus bercerita.

“Terus SPK abang itu bayar kamar juga gak?”, tanyaku agak penasaran.

“Enggak sih. Kan palkamnya SPK juga,” jelasnya.

“Trus trus, dia kecolek gak pas baru masuk (penjara)?” lanjutku.

“Enggak dia mah, gak ada yang nyolek dia,” jawabnya.

“Yang ketangkep sekarang ini, aksi yang keberapa, bang?”

“Wah, udah gak keitung deh,” dia kembali terkekeh.

Mereka merupakan komplotan begal mobil yang menargetkan orang yang hendak menggelapkan mobil sebagai korban. Berawal sakit hati karena menjadi korban penipuan saat ingin menadah mobil hasil penggelapan, operasi balas dendam berbuah keterusan. Nahas, korban terakhir mereka adalah seorang pegawai sebuah raksasa pengembang properti di Indonesia. Alhasil, begitu diusut dan terungkap, aksi mereka kali ini tidak dapat dihapuskan begitu saja, tidak seperti aksi-aksi mereka yang sebelumnya.

Dari 13 orang anggota komplotan, hanya 4 yang dipenjara: 3 sipil dan 1 intel BNPT. Sisanya merupakan bagian dari TNI, yang kabarnya bahkan dimutasi pun tidak.

“Wah, mataharinya ketutupan awan,” ujarku sembari menengadah saat kusadari terang cahayanya mulai meredup.

Selain itu, karena kurasa informasi yang kudapatkan sudah cukup, aku pun berpamitan.

“Yaudah ya, bang. Saya balik kamar dulu, mules,” aku berdusta. “Sampai ketemu lagi, nanti ngobrol-ngobrol lagi,” lanjutku sambil berdiri dan mengarahkan telapak tanganku yang terbuka padanya.

“Oke,” balasnya sambil menyambut tos dariku.

  1. Palkam = kepala kamar, ada juga disebut dengan KM. Merupakan individu yang ditunjuk sebagai ketua/pemimpin/penanggungjawab sebuah kamar di dalam penjara. Konsep ini umumnya berlaku mulai dari kamar sel tahanan Polres hingga lapas, namun beberapa kesaksian bahkan menyatakan bahwa konsep ini juga berlaku di tingkat Polsek. ↩︎
  2. SPK = Seperkara / satu perkara. Dua atau lebih individu yang ditahan atas kasus/perkara yang sama. Sewajarnya mereka berada dalam satu Berkas Acara Pemeriksaan (BAP), namun tidak jarang SPK memiliki berkas terpisah karena sebab tertentu, yang umumnya karena permintaan dari salah satu pihak terdakwa agar hukumannya bisa diringankan setelah sebelumnya kongkalikong dengan pihak penyidik. ↩︎