Begitu pintu besi kamar dibuka, aku bergegas menuju blok sebelah untuk mengambil uang tunai di jasa transferan yang dikelola oleh pesuruh sipir. Sebungkus rokok kubeli, kubakar sebatang dan kemudian duduk di pinggir lapangan. Kubuka kaosku dan mulai berjemur. Di dekatku ada 2 orang pria yang tengah berbincang, lalu datang lagi 1 orang yang duduk lebihContinue reading “Hari yang lain di penjara: Berjemur”
Hari yang lain di penjara: Luring, Kerabat, dan Demo Akbar.
Album Gelap Gempita dari Sukatani menjadi satu-satunya berkas lagu di ponselku saat ini, dan mulai berputar untuk kedua kalinya saat admin penjual paket internet langgananku membalas pesan WA. Sudah lebih dari setahun belakangan aku mengisi paket internet melaluinya—yang kutemukan di grup Facebook—karena harganya jauh lebih ekonomis ketimbang melalui aplikasi resmi provider internet yang kugunakan.
Hari yang lain di penjara: Kompromi
Naiknya asam lambung ini diperparah oleh kenyataan yang kusadari bahwa aku telah terkena phising, setelah beberapa jam sebelumnya dengan gegabah menyetujui eksekusi sebuah smart-contract dari link yang kudapatkan melalui notifikasi pengumunan sebuah server di Discord terkait klaim airdrop crypto (kripto), yang ternyata diposting oleh sebuah akun bot palsu.
Hari yang lain di penjara: Sesuatu
Siang: Sepuntung ganja terjatuh diatas layar ponsel milik B1 —ketika B2 hendak mengopernya padaku— tepat di ruang obrolan WA yang berisi foto bukti transfer bank yang baru saja dikirim oleh korban love-scamming. “Tuh kan, kejatuhan gele nongol foto itu”, ujar B1 disusul oleh tawa kecil kami. **
Hari yang lain di penjara: Diskotek x Narkotik
Seperti yang mungkin pernah kalian dengar, bahwasanya di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) —atau yang lebih umum disebut penjara— ada kamar yang fasilitasnya menyerupai hotel dan diskotek: benar adanya.